Media Sosial serta Penegakan Hukum Bagi Pelaku Hoax




Selasa 15 Oktober 2019 15:17:14 WIB
tribratanewsriau.com. Kapolda Riau, Irjen Pol Drs Agung Setya Imam Effendi tadi pagi hadir sebagai pembicara dalam acara  “Mengenal Tools Google Untuk Filter Informasi Dan Hoaks Di Era Disrupsi”. Dengan paparan Kapolda Riau sendiri berjudul Ancaman Hoax dan Penegakan Hukum di Hotel Grand Zuri Jalan Soekarno Hatta Pekanbaru tadi pagi (15/10)  

Dalam paparannya Kapolda Riau menyampaikan bahwa Indonesia adalah pengguna media social papan atas di Dunia. Indonesia berada dalam peringkat 3 terbesar dunia dibawah China dan India. Sesuai data survei, Pengguna Media Sosial di Indonesia awal Januari lalu sekitar 20 juta orang. Dengan pertumbuhan pengguna sebesar 15% diperkirakan Indonesia memiliki pengguna Sosmed berkisar pada angka 23 – 24 juta orang pada awal tahun 2020 nanti. Dengan angka pengguna sosmed yang besar ini, tanpa diikuti dengan kemampuan literasi yang baik maka Indonesia sangat rentan diserang bahaya Hoax. Segala macam bentuk Hoax  akan menerpa dan singgah. Dan tidak sedikit yang langsung yakin kebenarannya tanpa cek dan ricek terlebih dahulu.

Menurut Agung, Polri sudah melakukan penyuluhan / himbauan tentang Tindak Pidana Cyber sebagai bentuk dari Kesadaran bermedia Sosial / Cyber Awareness. Rutin melaksanakan Patroli Cyber di medsos maupun di Media Media Online. Melakukan diseminasi maupun counter narasi. Melaksanakan pelayanan terhadap masyarakat yang melaporkan secara Offline TP Cyber dan melakukan koordinasi internal dalam penanganan TP Cyber. Terkait kondisi kekinian tentang ujaran kebencian terhadap musibah yang dialami oleh Menkopolhukan Bapak Wiranto maka Polda Riau juga sedang mendalami sebuah kasus yang diduga dilakukan oleh JM yang merupakan ASN di sebuah dinas dan dosen Luar Biasa di sebuah Universitas di Riau. Kasusnya hingga saat ini masih dalam proses lidik untuk memastikan pelakunya

Agung juga tak lupa untuk mengajak “Seluruh nettizen di Indonesia agar bijak menggunakan medsos. Kritis itu bagus dan boleh, namun harus mampu menetralisir dan menjauhi sikap provokatif. Dan mengkritisi tidak sama dengan menjatuhkan” ujar Agung sambil menutup sesi nya sebagai pembicara dalam seminar tersebut.

Scroll to top